Image by © Colin Anderson/Brand X/Corbis

Image by © Colin Anderson/Brand X/Corbis

Hipnosis yang dikenal oleh kebanyakan orang adalah praktik hipnosis panggung, seperti yang dilakukan oleh Romy Rafael dan Uya Kuya. Sebetulnya praktik hipnoterapi dengan hipnosis panggung (untuk pertujukan atau hiburan) merupakan dua hal yang berbeda, meskipun lama-sama menggunakan hipnosis sebagai dasarnya.

Menurut Adi W. Gunawan, guru hipnoterapi yang menyebut diri the re-educator & mind navigator itu, hipnotis panggung sangat mudah dipelajari dan dipraktikan.

“Untuk menjadi seseorang yang jago melakukan stage hypnosis, Anda cukup mengikuti lokakarya sehari. Setelah mengerti dasar-dasarnya, Anda bisa langsung mempraktikkannya,” ungkap penulis buku-buku hipnotis antara lain berjudul Hypnotherapy, the Art of Subconscious Restructuring ini.

Menurut Adi, saking gampangnya, bahkan beberapa pembaca bukunya yang berjudul Hypnosis: The art of Subconscious Communication mengirim e-mail dan SMS kepadanya menceritakan kemampuan mereka mempraktikkan hipnosis, hanya dari membaca buku saja. Ada yang bisa membuat temannya kehilangan angka 5 dan lupa nama dirinya, ada juga yang membuat jalinan kedua tangannya tak bisa dilepaskan, dan lain-lain.

Mengapa hipnosis panggung bisa sedemikian mudah dipraktikkan, menurut Adi, karena kebetulan subjeknya memang mudah trance. Seorang praktisi hipnosis diajarkan bagaimana memilih subjek yang mudah trance, cara mengetahui kedalaman kondisi trance, maupun efek hipnosis pada subyek.

“Inti dari stage hypnosis adalah kejelian memilih subjek hipnosis dan kreatif dalam menentukan skenario,” papar Adi.

Karena itu, hipnosis panggung perlu persiapan lebih dulu. Mengapa? “Tentu tidak lucu kalau subjek yang dipilih ternyata sulit masuk ke dalam kondisi trance. Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi kalau praktisi hipnosis menjentikkan jarinya dan berkata “Tidur!” tetapi subjek itu cuma cengar cengir,” katanya.

Sementara itu, dalam hipnoterapi, para terapis tidak dapat memilih subjek yang mudah masuk ke dalam kondisi trance. Terapis harus menerima kliennya dalam kondisi apapun, baik yang sangat mudah, cukup mudah, atau bahkan sulit masuk kondisi trance. Itulah sebabnya seorang hipnoterapis harus memahami banyak teknik serta kreatif.

Menurut Adi Gunawan, hipnosis baru dapat disebut sebagai hipnoterapi jika menggunakan teknik-teknik tertentu untuk membantu klien menemukan sumber masalahnya dan meningkatkan potensi diri mereka, sesuai dengan masalah yang mereka hadapi.

“Terapi yang diterapkan harus berpusat pada diri klien atau client centered dan bukan therapist centered,” ujar Adi, yang menimba ilmu Mind Mirror dari Anna Wise di Berkeley, Amerika Serikat ini.

Adi juga menjelaskan bahwa dalam terapi, para terapis tidak perlu membawa klien sampai pada kondisi trance yang sangat dalam (somnabulisme). Dengan kondisi light trance atau trance ringan saja terapi sudah bisa dilaksanakan.

“Kondisi deep trance hanya diperlukan kalau terapis menggunakan teknik tertentu, misalnya age regression, past life regression, past life regression, atau parts therapy,” kata Adi. (GHS/wid)

Sumber : Tabloid Gaya Hidup Sehat