SEJAK masih duduk di bangku kelas V SD , penyakit malaria yang diidap Muhammad Azis (27) selalu kambuh setiap tahun. Ia tidak bisa menolak tamu tak diundang itu datang dan menyiksa tubuhnya. Azis baru terbebas dari malaria sejak rutin minum ramuan tradisional dari kulit kayu dan daun obat, empat tahun lalu.

083727p

“Empat tahun ini malaria saya tidak pernah kambuh karena rutin minum ramuan kulit kayu dan daun. Sebelum minum ramuan itu, setiap musim pancaroba malaria saya kambuh, ” ujar Azis, warga Masohi, Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Awalnya, Azis malas meminum ramuan tradisional itu karena rasanya pahit sekali dan lama hilang dari lidah. Namun, ia terus meminum ramuan itu karena dipaksa oleh istrinya. Setelah terbukti ampuh menangkal malaria, kini ia rutin minum obat tradisional itu. “Sekarang sudah biasa, jadi pahitnya tidak terasa lagi. Yang penting tubuh sehat dan penyakit hilang, ” ujar Azis.

Ramuan penangkal malaria yang paling sederhana dan mudah dibuat adalah perasan daun pepaya. Beberapa lembar daun pepaya dicuci kemudian ditumbuk halus. Daun tumbuk itu diperas hingga airnya tinggal tetes-tetes. Air perasan berwarna hijau pekat dan kental. Satu gelas mug air perasan daun pepaya diminum tiga kali sehari. Pahit tetapi mujarab.

Ramuan daun pepaya ini sangat efektif menurunkan panas dan menghilangkan pegal-pegal persendian saat malaria mulai menyerang. “Saya selalu minum air perasan daun pepaya setiap kali terasa malaria akan kambuh. Kita hanya butuh istirahat seharian supaya tubuh kembali sehat, ” ujar Hanafi Tianlean (27) warga Batumerah, Ambon, yang pernah koma akibat malaria.

Ramuan lain yang lebih manjur untuk menjaga ketahanan tubuh adalah kombinasi kulit pohon dan dedaunan. Masyarakat Maluku mengenal kulit pohon langsat, kamboja dan pule sebagai obat malaria. Kulit pohon biasa dikombinasi dengan daun sambiloto (Andrographis paniculata), kucing-kucing, cinta-cinta, sambung nyawa ( Gynura procumbens), daun alifuru/biana, daun dewa (Gynura pseudochina) dan kumis kucing ( Orthosiphon spicatus BBS).

Ramuan kombinasi kulit pohon dan dedaunan itu direbus kemudian airnya diminum setiap pagi dan sore. Khasiat ramuan itu dipercaya mampu meningkatkan kekebalan tubuh pada malaria, memulihkan ketahanan tubuh dan menjaga dari berbagai penyakit . Masyarakat di Maluku menilai ramuan itu memahitkan darah sehingga nyamuk tidak mau menghisapnya.

Kearifan lokal lain di Maluku untuk mencegah penyebaran malaria adalah tradisi cuci negeri (bersih desa). Tradisi ini sebenarnya bermakna luas tetapi salah satu intinya menjaga kebersihan lingkungan. Cuci negeri tidak marak lagi di Maluku, salah satu desa yang masih memegang teguh adalah Negeri Soya di bukit Sirimau, Ambon.

Masyarakat bergotong royong membersihkan pekarangan, jalan, menutup genangan air dan menguras sumber-sumber air. Mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat dibersihkan supaya rantai penyebaran bibit penyakit, temasuk nyamuk, terputus.

Kondisi geografis Maluku yang perpulau-pulau dengan sebagian besar permukiman di pesisir dan rawa-rawa menyebabkan wilayah ini endemis malaria. Faktor alam itu mendorong masyarakat menyiasatinya dengan menciptakan berbag ai ramuan tradisional untuk mencegah malaria.

Sedangkan pemrintah melalui Departemen Kesehatan meluncurkan program pengendalian malaria di Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku, dan NTT sejak 1 Juli 2003. Kelima provinsi itu ditargetkan bebas malaria pada 2030.

Kearifan lokal berupa ramuan obat-obatan masih dipegang teguh oleh sebagian masyarakat Maluku. Pengobatan tradisional itu perlu didukung dengan praktek hidup sehat. Menghidupkan kembali kearifan lokal penangkal malaria perlu dilakukan. Ilmu kesehatan modern disandingkan kearifan lokal memberi harapan cerah pengendalian malaria di Indonesia.

Agung Setyahadi