20 Penyakit dan Makanan yang Harus Dipantang

2 Komentar

Makanan membuat manusia bertahan hidup. Namun makanan juga menjadi musuh jika seseorang menderita penyakit. Menghindari makanan yang dipantangkan adalah cara terbaik yang dapat dilakukan penderita berbagai macam penyakit.

Menjauh dari makanan yang dipantangkan adalah langkah pencegahan agar penyakit yang diderita tak sering-sering kambuh yang bisa menggangu aktifitas sehari-hari.

Berikut adalah jenis penyakit dan pantangannya, seperti dikutip darieHow dan BBCNews, healthandage, Kamis (11/3/2010).

1. Jantung
Hindari makanan yang berlemak, seperti daging, jeroan, minyak santan serta makanan yang mengandung banyak garam.

2. Hepatitis A
Hindari buah-buahan dan sayuran mentah, terutama yang tidak bisa dikupas. Hindari kerang mentah, tiram, remis, mayones, keju, krim, yogurt dan hindari makan ikan dari perairan yang berpotensi terkontaminasi.

3. Anemia
Kurangi konsumsi kafein dan alkohol karena bisa mengikat darah. Makan makanan yang kaya zat besi seperti apel, pisang, aprikot, plum, asparagus, labu, ubi rambat, brokoli dan sayuran berdaun hijau, daging merah, tahu dan biji-bijian.

4. Diabetes
Hindari konsumsi makanan yang mengandung gula, tepung dan tinggi karbohidat. Juga hindari buah-buahan seperti durian, air kelapa, pisang ambon.

5. Kanker
Hindari makanan yang banyak mengandung akrilamida, yang terdapat pada makanan yang dipanggang dan digoreng seperti kentang goreng, keripik, roti goreng, biskuit, kerupuk dan sarapan sereal.

6. Liver
Hindari makanan yang mengandung banyak protein seperti daging, susu, kacang-kacangan, dan produk kedelai. Juga hindari makanan yang mengandung banyak garam.

7. Asma
Hindari makanan yang menyebabkan produksi lendir berlebih seperti susu, keju dan produk susu lainnya, gula putih, tepung putih, roti putih dan coklat. Hindari juga makanan yang dapat menyebabkan reaksi alergi seperti telur, susu, gandum, ikan, kerang, kacang-kacangan, kedelai dan kacang tanah, serta makanan yang mengandung sulfida seperti acar, sayuran dan buah-buahan kering, dan udang.

8. Maag
Hindari konsumsi kafein, makanan pedas, makanan pedas seperti daging dan jeroan, minuman berkarbonasi, susu, jeruk, dan tomat.

9. Migrain
Hindari konsumsi rokok, minuman beralkohol, kopi, cokelat dan produk-produk cokelat, teh hitam dan hijau dan minuman ringan. Hindari juga makanan dengan bahan pengawet dan aditif seperti MSG ((monosodium glutamat), kaldu ekstrak, atau produk protein nabati terhidrolisis dengan label yang menyebutkan “rasa alami”.

10. Wasir
Jangan makan makanan yang bersifat panas dan mengandung lemak (penyebab sembelit) seperti makanan pedas, daging, jeroan, dan juga junk food. Makanlah makanan yang mengandung banyak serat, seperti sayuran, roti gandum, buah, sereal, dan kacang-kacangan.

11. Sinusitis
Hindari makanan yang digoreng, tepung makanan, gula putih, tepung terigu, beras, pai, rempah-rempah yang kuat, daging dan produk daging.

12. Autis
Hindari makanan yang mengandung protein gluten seperti gandum, oat, barley, makanan kasein pada susu, pancake, pemanis buatan.

13. Rematik
Hindari makanan yang banyak mengandung lemak seperti daging dan produk daging, kerupuk jengkol, mentega, krim, sosis, daging ham, telur, dan semua produk susu.

14. Tifus
Hindari makanan berserat tinggi seperti gandum utuh dan biji-bijian. Juga hindari kacang mete mentah, kubis, paprika, lobak, bawang putih, bawang merah, rempah, acar, makanan yang digoreng, daging, semua jenis buah-buahan mentah kecuali pisang dan pepaya.

15. Malaria
Makanan yang harus dihindari adalah kopi, teh kental, makanan olahan, saus, bumbu masak, acar, gula, tepung putih, minuman beralkohol, dan semua produk daging.

16. Keputihan
Hindari makanan yang dapat merangsang lendir seperti nanas, ketimun, telur, dan udang.

17. Osteoporosis
Hindari makanan berlemak seperti daging, susu, santan, margarin, hotdog, hamburger, kopi dan minuman berkafein, coklat, dan minuman berkarbonasi.

18. Epilepsi
Hindari makanan yang mengandung glutamin (asam amino yang dapat menyebabkan serangan epilepsi) seperti biji-bijian, gandum, oat, susu yang kadar glutamin tinggi, kacang-kacangan, kedelai, dan produk daging terutama daging kelinci.

19. Demam Berdarah
Hindari makanan cepat saji (junk food), makanan berlemak seperti daging, santan, susu tinggi lemak. Perbanyak konsumsi buah dan air putih.

20. Prostat
Hindari minuman berkafein seperti kopi, makanan pedas, makanan lemak terutama daging merah, dan juga alkohol.

Sumber : detik.com

Kulit Pohon Penghalau Malaria

Tinggalkan Komentar

SEJAK masih duduk di bangku kelas V SD , penyakit malaria yang diidap Muhammad Azis (27) selalu kambuh setiap tahun. Ia tidak bisa menolak tamu tak diundang itu datang dan menyiksa tubuhnya. Azis baru terbebas dari malaria sejak rutin minum ramuan tradisional dari kulit kayu dan daun obat, empat tahun lalu.

083727p

“Empat tahun ini malaria saya tidak pernah kambuh karena rutin minum ramuan kulit kayu dan daun. Sebelum minum ramuan itu, setiap musim pancaroba malaria saya kambuh, ” ujar Azis, warga Masohi, Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Awalnya, Azis malas meminum ramuan tradisional itu karena rasanya pahit sekali dan lama hilang dari lidah. Namun, ia terus meminum ramuan itu karena dipaksa oleh istrinya. Setelah terbukti ampuh menangkal malaria, kini ia rutin minum obat tradisional itu. “Sekarang sudah biasa, jadi pahitnya tidak terasa lagi. Yang penting tubuh sehat dan penyakit hilang, ” ujar Azis.

Ramuan penangkal malaria yang paling sederhana dan mudah dibuat adalah perasan daun pepaya. Beberapa lembar daun pepaya dicuci kemudian ditumbuk halus. Daun tumbuk itu diperas hingga airnya tinggal tetes-tetes. Air perasan berwarna hijau pekat dan kental. Satu gelas mug air perasan daun pepaya diminum tiga kali sehari. Pahit tetapi mujarab.

Ramuan daun pepaya ini sangat efektif menurunkan panas dan menghilangkan pegal-pegal persendian saat malaria mulai menyerang. “Saya selalu minum air perasan daun pepaya setiap kali terasa malaria akan kambuh. Kita hanya butuh istirahat seharian supaya tubuh kembali sehat, ” ujar Hanafi Tianlean (27) warga Batumerah, Ambon, yang pernah koma akibat malaria.

Ramuan lain yang lebih manjur untuk menjaga ketahanan tubuh adalah kombinasi kulit pohon dan dedaunan. Masyarakat Maluku mengenal kulit pohon langsat, kamboja dan pule sebagai obat malaria. Kulit pohon biasa dikombinasi dengan daun sambiloto (Andrographis paniculata), kucing-kucing, cinta-cinta, sambung nyawa ( Gynura procumbens), daun alifuru/biana, daun dewa (Gynura pseudochina) dan kumis kucing ( Orthosiphon spicatus BBS).

Ramuan kombinasi kulit pohon dan dedaunan itu direbus kemudian airnya diminum setiap pagi dan sore. Khasiat ramuan itu dipercaya mampu meningkatkan kekebalan tubuh pada malaria, memulihkan ketahanan tubuh dan menjaga dari berbagai penyakit . Masyarakat di Maluku menilai ramuan itu memahitkan darah sehingga nyamuk tidak mau menghisapnya.

Kearifan lokal lain di Maluku untuk mencegah penyebaran malaria adalah tradisi cuci negeri (bersih desa). Tradisi ini sebenarnya bermakna luas tetapi salah satu intinya menjaga kebersihan lingkungan. Cuci negeri tidak marak lagi di Maluku, salah satu desa yang masih memegang teguh adalah Negeri Soya di bukit Sirimau, Ambon.

Masyarakat bergotong royong membersihkan pekarangan, jalan, menutup genangan air dan menguras sumber-sumber air. Mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat dibersihkan supaya rantai penyebaran bibit penyakit, temasuk nyamuk, terputus.

Kondisi geografis Maluku yang perpulau-pulau dengan sebagian besar permukiman di pesisir dan rawa-rawa menyebabkan wilayah ini endemis malaria. Faktor alam itu mendorong masyarakat menyiasatinya dengan menciptakan berbag ai ramuan tradisional untuk mencegah malaria.

Sedangkan pemrintah melalui Departemen Kesehatan meluncurkan program pengendalian malaria di Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku, dan NTT sejak 1 Juli 2003. Kelima provinsi itu ditargetkan bebas malaria pada 2030.

Kearifan lokal berupa ramuan obat-obatan masih dipegang teguh oleh sebagian masyarakat Maluku. Pengobatan tradisional itu perlu didukung dengan praktek hidup sehat. Menghidupkan kembali kearifan lokal penangkal malaria perlu dilakukan. Ilmu kesehatan modern disandingkan kearifan lokal memberi harapan cerah pengendalian malaria di Indonesia.

Agung Setyahadi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.